Analisis Strategis atas Relevansi, Adaptasi, dan Proyeksi Kekuatan Darat dalam Tatanan Ancaman Global Kontemporer A Strategic Analysis of the Relevance, Adaptation, and Projection of Land Forces in the Contemporary Global Threat Order
Kajian ini menganalisis argumen strategis di balik upaya Center for Strategic and International Studies (CSIS) dalam mengevaluasi relevansi dan masa depan kekuatan darat Amerika Serikat di tengah perubahan tatanan ancaman global. Dipimpin oleh Jenderal Jack Keane—mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat AS—diskusi ini menekankan bahwa hadirnya koalisi adversarial antara Rusia, Tiongkok, Iran, dan Korea Utara merupakan tantangan strategis terbesar sejak Perang Dunia II. Kajian ini memetakan peran esensial kekuatan darat dalam menghadapi era drone, menegaskan relevansi komando terdesentralisasi, mengevaluasi kontribusi kekuatan darat di kawasan Indo-Pasifik, serta menganalisis implikasi sistem presisi jarak jauh terhadap proyeksi kekuatan. Argumen sentral kajian ini adalah bahwa realitas politik hanya dapat diciptakan di darat: angkatan laut dan udara membentuk dinamika, tetapi kekuatan daratlah yang menciptakan realitas.
This study analyzes the strategic rationale behind the Center for Strategic and International Studies (CSIS) effort to evaluate the relevance and future of United States land forces amid a changing global threat environment. Led by General Jack Keane—former Vice Chief of Staff of the U.S. Army—the discussion emphasizes that the adversarial coalition between Russia, China, Iran, and North Korea represents the greatest strategic challenge since World War II. The study maps the essential role of land forces in confronting the drone era, affirms the relevance of decentralized command, evaluates land force contributions in the Indo-Pacific, and analyzes the implications of long-range precision systems for power projection. The central argument is that political reality can only be created on land: navies and air forces shape dynamics, but land forces create reality.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) meluncurkan sebuah studi ambisius bertajuk Future of Land Forces—sebuah upaya evaluasi sistematis atas relevansi, struktur, dan doktrin kekuatan darat Amerika Serikat di tengah pergeseran tatanan keamanan global yang paling fundamental dalam beberapa dekade terakhir. Dr. John Hamre, Presiden CSIS, menjelaskan latar belakang inisiatif ini dalam sebuah diskusi dengan Jerry McGinn (Direktur Pusat Basis Industri CSIS) dan Jenderal Jack Keane (mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat AS).
The Center for Strategic and International Studies (CSIS) launched an ambitious study titled Future of Land Forces—a systematic evaluation of the relevance, structure, and doctrine of United States land forces amid the most fundamental global security order shift in decades. Dr. John Hamre, CSIS President, outlined the background for this initiative in a discussion with Jerry McGinn (Director, CSIS Center for the Industrial Base) and General Jack Keane (former Vice Chief of Staff of the U.S. Army).
Dr. Hamre memulai dengan sebuah premis yang tampak sederhana namun memiliki implikasi strategis yang sangat dalam: di era di mana rivalitas dengan Tiongkok mendominasi diskusi kebijakan pertahanan AS, muncul kecenderungan berbahaya untuk menyeleksi komponen militer secara parsial. "Saya mendengar begitu banyak orang berkata: kita hanya butuh Angkatan Udara dan Angkatan Laut untuk misi ini," ujar Hamre. Kecenderungan semacam ini, menurutnya, bukan pertama kali terjadi—tiga dekade lalu, penutupan Perang Dingin juga memunculkan argumen bahwa tentara darat tidak lagi diperlukan. Sejarah membuktikan argumen itu keliru.
Dr. Hamre began with a premise that seems simple yet carries deep strategic implications: in an era where rivalry with China dominates U.S. defense policy discussions, a dangerous tendency has emerged to selectively prioritize military components. "I hear so many times people say: we only need Air Force and Navy to do this mission," said Hamre. Such tendencies, he argued, are not unprecedented—three decades ago, the Cold War's end also spawned arguments that ground forces were no longer needed. History proved those arguments wrong.
Tujuan militer pada akhirnya adalah mewujudkan tujuan-tujuan politik pemerintah. Jika Anda benar-benar ingin menciptakan realitas politik, Anda harus menciptakannya di atas tanah. Pesawat dan kapal menciptakan dinamika, tetapi kekuatan daratlah yang menciptakan realitas. Ultimately, the purpose of a military is to exercise the political goals of the government. If you're really going to create political reality, you have to create it on the ground. Airplanes and ships will create political dynamics, but it is land forces that create political reality.
— Dr. John Hamre, Presiden & CEO, CSIS — Dr. John Hamre, President & CEO, CSISStudi Future of Land Forces dirancang dengan cakupan yang sangat luas, melampaui dimensi tempur semata. Dr. Hamre secara eksplisit menyebut pentingnya mengkaji kemampuan AS dalam rekonstruksi pasca-konflik: "Kita sangat baik dalam pertempuran, tetapi seberapa baik kita dalam membangun kembali masyarakat sipil setelahnya?" Pertanyaan ini mencerminkan kesadaran bahwa kekuatan darat tidak hanya soal menang dalam perang, melainkan juga soal menang dalam perdamaian—sebuah dimensi yang seringkali terabaikan.
The Future of Land Forces study is designed with a very broad scope, going far beyond the purely combat dimension. Dr. Hamre explicitly mentioned the importance of examining U.S. capabilities in post-conflict reconstruction: "We're very good at combat, but how good are we at rebuilding civil society afterwards?" This question reflects an awareness that land forces are not only about winning wars but also about winning the peace—a dimension that is often overlooked.
Jenderal Jack Keane—mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat dan salah satu analis strategis paling dihormati di Amerika Serikat—membuka penilaiannya dengan karakterisasi yang sangat tajam: "Saya rasa kita belum pernah menghadapi sesuatu yang sepedas tantangan strategis ini sejak Perang Dunia II." Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ini adalah penilaian profesional seorang jenderal bintang empat yang telah mengamati dan membentuk strategi keamanan AS selama empat dekade.
General Jack Keane—former Army Vice Chief of Staff and one of America's most respected strategic analysts—opened his assessment with a sharply worded characterization: "I don't think we've seen anything quite frankly as challenging as this since World War II." This was not mere rhetoric. It is the professional judgment of a four-star general who has observed and shaped U.S. security strategy for four decades.
Inti dari penilaian Jenderal Keane adalah identifikasi sebuah formasi strategis baru yang belum pernah ada sebelumnya: kolusi, kerja sama, dan kolaborasi empat kekuatan adversarial—Rusia, Tiongkok, Iran, dan Korea Utara. Koalisi ini bukan aliansi formal, tetapi jaringan kepentingan yang saling menguatkan dengan tujuan kolektif untuk melemahkan posisi kepemimpinan global Amerika Serikat.
The core of General Keane's assessment is the identification of a new and unprecedented strategic formation: the collusion, cooperation, and collaboration of four adversarial powers—Russia, China, Iran, and North Korea. This coalition is not a formal alliance, but a network of mutually reinforcing interests with the collective goal of weakening America's position of global leadership.
| AktorActor | Motivasi UtamaPrimary Motivation | Kapabilitas KunciKey Capability | Area Konflik AktifActive Conflict Area | Kontribusi ke KoalisiCoalition Contribution |
|---|---|---|---|---|
| Rusia | Rekonstruksi pengaruh Soviet; Ukraina sebagai bufferSoviet influence reconstruction; Ukraine as buffer | Kekuatan nuklir; rudal balistik; pasukan darat besarNuclear power; ballistic missiles; large ground forces | Ukraina (aktif sejak 2022)Ukraine (active since 2022) | Kekuatan militer konvensional dan nuklir; gangguan NATOConventional and nuclear military power; NATO disruption |
| TiongkokChina | Hegemoni Indo-Pasifik; reunifikasi Taiwan; geser hegemoni ASIndo-Pacific hegemony; Taiwan reunification; displace U.S. hegemony | Kekuatan nuklir; angkatan laut terbesar; AI & teknologi siberNuclear power; world's largest navy; AI & cyber tech | Laut Tiongkok Selatan; selat TaiwanSouth China Sea; Taiwan Strait | Teknologi; ekonomi; investasi strategis; diplomatikTechnology; economics; strategic investment; diplomatic |
| Iran | Hegemoni Timur Tengah; eliminasi pengaruh AS/IsraelMiddle East hegemony; eliminate U.S./Israeli influence | Jaringan proksi regional; rudal balistik; droneRegional proxy network; ballistic missiles; drones | Israel; Yaman (Houthi); Iraq; LebanonIsrael; Yemen (Houthi); Iraq; Lebanon | Proksi asimetris; penggalangan tekanan di Timur TengahAsymmetric proxies; pressure mobilization in Middle East |
| Korea UtaraNorth Korea | Kelangsungan rezim Kim; akses teknologi; konsolidasi nuklirKim regime survival; technology access; nuclear consolidation | Arsenal nuklir; rudal balistik interkontinental; pasukan darat masifNuclear arsenal; ICBMs; massive ground forces | Semenanjung Korea; Ukraina (dukungan Rusia)Korean Peninsula; Ukraine (support for Russia) | Amunisi & rudal ke Rusia; 12.000 personel ke front UkrainaAmmunition & missiles to Russia; 12,000 personnel to Ukraine front |
Jenderal Keane mengidentifikasi tiga kawasan di mana kepentingan vital Amerika Serikat secara langsung terancam secara simultan: Eropa (konflik Rusia-Ukraina), Timur Tengah (operasi proksi Iran), dan Indo-Pasifik (agresivitas Tiongkok yang meningkat). Ditambah dengan dinamika di belahan bumi barat, ini merupakan konfigurasi ancaman yang belum pernah dihadapi AS sejak era Perang Dunia II.
General Keane identified three zones where U.S. vital interests are directly and simultaneously threatened: Europe (the Russia-Ukraine conflict), the Middle East (Iranian proxy operations), and the Indo-Pacific (escalating Chinese assertiveness). Combined with dynamics in the Western Hemisphere, this threat configuration has not been faced by the U.S. since the World War II era.
Sebuah perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya: Korea Utara mengerahkan sekitar 12.000 personel militer untuk mendukung operasi Rusia di Ukraina, di samping pasokan amunisi dan rudal balistik dalam jumlah besar. Ini menandai pertama kalinya sejak Perang Korea bahwa tentara Korea Utara berperang dalam konflik internasional di luar semenanjung Korea—sebuah indikator nyata bahwa koalisi adversarial ini bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan kemitraan operasional yang nyata.
An unprecedented development: North Korea deployed approximately 12,000 military personnel to support Russian operations in Ukraine, alongside large supplies of ammunition and ballistic missiles. This marks the first time since the Korean War that North Korean soldiers have fought in an international conflict outside the Korean Peninsula—a concrete indicator that this adversarial coalition is not mere diplomatic rhetoric, but a real operational partnership.
Jenderal Keane mengakui secara terbuka bahwa teknologi drone dan kendaraan otonom sedang mengubah karakter perang secara fundamental. Prinsip yang dia rumuskan menjadi frasa yang sangat berpengaruh: "Jika bisa dilihat, bisa dibunuh". Ini berlaku tidak hanya pada personel, tetapi juga pada laras artileri, pos komando, tank, dan kendaraan lapis baja. Lebih dari itu, "dilihat" dalam konteks medan perang modern tidak hanya berarti observasi visual, tetapi juga deteksi elektronik.
General Keane openly acknowledged that drone and autonomous vehicle technology is fundamentally changing the character of war. The principle he articulated became an influential phrase: "If you can be seen, you can be killed." This applies not only to personnel, but also to artillery tubes, command posts, tanks, and armored vehicles. Moreover, "seen" in the modern battlefield context means not just visual observation, but also electronic detection.
Jika Anda dapat mendeteksi sinyal iPhone di suatu tempat di medan perang, Anda tahu lokasi itu. Kita memiliki kemampuan peperangan elektronik untuk mengakuisisi lokasi itu dengan sangat cepat. Setiap tanda tangan elektronik yang keluar dari sebuah pos komando—musuh mengetahui posisinya. If you can detect an iPhone on a battlefield someplace, you know where that location is. We have the electronic warfare means to acquire that location very quickly. Any electronic signature coming out of a command post—the adversary knows where it is.
— Jenderal Jack Keane, Mantan Wakil KSAD AS — General Jack Keane, Former U.S. Army Vice Chief of StaffSalah satu kontribusi analitik terpenting Jenderal Keane dalam diskusi ini adalah penolakan argumen bahwa drone warfare membuat tentara darat tidak relevan. Argumen ini, menurutnya, lahir dari kesalahan metodologis yang serius: kita terlalu terpaku pada pengalaman Ukraina, yang tidak merepresentasikan cara Angkatan Darat AS bertempur.
One of General Keane's most important analytical contributions was his rejection of the argument that drone warfare renders ground armies irrelevant. This argument, he asserted, stems from a serious methodological error: we are too fixated on the Ukrainian experience, which does not represent how the U.S. Army fights.
| DimensiDimension | Angkatan Darat UkrainaUkrainian Army | Angkatan Darat ASU.S. Army |
|---|---|---|
| Struktur KomandoCommand Structure | Taktis (kompi/batalyon); brigade tidak mengaktifkan batalyon; tidak ada divisi aktifTactical (company/battalion); brigade doesn't enable battalion; no active divisions | Berlapis (kompi–batalyon–brigade–divisi–korps); setiap eselon saling memungkinkanLayered (company–battalion–brigade–division–corps); each echelon enables the next |
| Pasukan GabunganJoint Forces | Sangat terbatas; ketergantungan pada dukungan baratVery limited; dependence on Western support | Penuh; darat-udara-laut-siber-antariksa terintegrasiFull; land-air-sea-cyber-space integrated |
| Pendekatan Medan PerangBattlefield Approach | Linear; statis dalam banyak segmenLinear; static in many segments | Tersegmentasi; manuver operasional; non-linearSegmented; operational maneuver; non-linear |
| Counter-DroneCounter-Drone | Improvisasi; kapabilitas terbatasImprovised; limited capability | Sistem counter-drone terintegrasi pada kendaraan tempur; sedang dikembangkanIntegrated counter-drone systems on combat vehicles; under active development |
| Kerentanan terhadap DroneDrone Vulnerability | Tinggi; pertempuran terbuka di lini depanHigh; open combat on front lines | Sedang-rendah; pendekatan tersegmentasi dan counter-drone aktifMedium-low; segmented approach and active counter-drone |
Argumen Keane yang paling kuat secara historis adalah hukum universal dalam sejarah militer: setiap keunggulan teknologi baru—pesawat tempur, kapal induk, tank, senapan mesin, dan kini drone otonom—selalu diikuti oleh perkembangan countermeasure yang mengembalikan keseimbangan. "Itu terjadi tepat di depan mata kita sekarang," kata Keane. Kendaraan tempur masa depan akan dilengkapi kemampuan anti-drone terintegrasi, memungkinkan penekanan drone swarm yang menyerang di medan perang.
Keane's most historically powerful argument is the universal law of military history: every new technological advantage—fighter aircraft, aircraft carriers, tanks, machine guns, and now autonomous drones—has always been followed by countermeasure developments that restore equilibrium. "That is happening right before our eyes," said Keane. Future combat vehicles will be equipped with integrated anti-drone capabilities, enabling the suppression of swarming drones attacking on the battlefield.
Jenderal Keane membuat distinsi konseptual yang sangat penting untuk memahami mengapa Angkatan Darat berbeda secara fundamental dari cabang militer lainnya: sementara Angkatan Udara dan Angkatan Laut bertempur dengan sistem, Angkatan Darat bertempur dengan organisasi yang dimungkinkan oleh sistem. Implikasi dari distinsi ini sangat dalam. Karena pertempuran darat menghasilkan korban jiwa dalam jumlah besar melalui kontak langsung, kualitas kepemimpinan, kohesi organisasi, dan kepercayaan dalam rantai komando menjadi variabel yang menentukan keberhasilan atau kegagalan.
General Keane made a critically important conceptual distinction for understanding why the Army fundamentally differs from other military branches: while the Air Force and Navy fight with systems, the Army fights with organizations enabled by systems. The implications of this distinction are profound. Because land combat produces large casualties through direct contact, leadership quality, organizational cohesion, and trust in the chain of command become the determining variables of success or failure.
| DimensiDimension | Model AS (Mission Command)U.S. Model (Mission Command) | Model Rusia (Tersentralisasi)Russian Model (Centralized) |
|---|---|---|
| Otoritas KeputusanDecision Authority | Didelegasikan ke komandan lapangan; "May I?" bukan bagian dari doktrinDelegated to field commanders; "May I?" is not part of the doctrine | Tersentralisasi di puncak; keputusan operasional membutuhkan persetujuan atasCentralized at the top; operational decisions require approval from above |
| Jenis PerintahOrder Type | Mission-type orders; "apa" yang harus dilakukan, bukan "bagaimana"Mission-type orders; "what" to do, not "how" to do it | Perintah prosedural detail; sangat preskriptifDetailed procedural orders; highly prescriptive |
| AdaptabilitasAdaptability | Tinggi; komandan menyesuaikan diri dengan situasi lapangan secara mandiriHigh; commanders independently adapt to field conditions | Rendah; inovasi dikecilkan; kegagalan dihukumLow; innovation discouraged; failure is punished |
| Kualitas PemimpinLeader Quality | Tinggi; investasi besar dalam pendidikan 18+ tahun per komandanHigh; massive investment in 18+ year education per commander | Sedang-rendah; pembinaan pemimpin tidak optimalMedium-low; suboptimal leader development |
| Hasil di MedanBattlefield Outcome | Korban terkendali; kohesi tinggi; manuver efektifControlled casualties; high cohesion; effective maneuver | Korban massal: 38.000–45.000/bulan di Ukraina (estimasi)Mass casualties: 38,000–45,000/month in Ukraine (estimated) |
Salah satu argumen paling kontra-intuitif—namun paling kuat—yang dikemukakan Jenderal Keane adalah bahwa keunggulan strategis Angkatan Darat AS bersumber bukan dari teknologi, melainkan dari investasi sistematis dalam pengembangan pemimpin. Membutuhkan 18 tahun untuk memproduksi seorang komandan batalyon yang kompeten; 14 tahun untuk sersan peleton. Ini adalah siklus pelatihan yang tidak bisa dipercepat atau disingkat tanpa kehilangan kualitas yang justru menjadi sumber keunggulan itu.
One of the most counter-intuitive—yet most powerful—arguments advanced by General Keane is that the U.S. Army's strategic advantage stems not from technology, but from systematic investment in leader development. It takes 18 years to produce a competent battalion commander; 14 years for a platoon sergeant. This is a training cycle that cannot be accelerated or shortened without losing the quality that is the very source of that advantage.
Salah satu asumsi paling berbahaya dalam diskusi strategi Amerika Serikat saat ini adalah anggapan bahwa Indo-Pasifik adalah teater udara dan maritim semata, sehingga kekuatan darat hanya memiliki peran marginal di sana. Jenderal Keane dengan tegas menolak framing ini.
One of the most dangerous assumptions in current U.S. strategy discussions is the notion that the Indo-Pacific is purely an air and maritime theater, making land forces only marginally relevant there. General Keane firmly rejected this framing.
"Para laksamana dan jenderal Perang Dunia II akan sedikit terkejut melihat bagaimana kita memandang teater ini," kata Keane. Para pemimpin militer AS dari era Perang Pasifik tidak pernah memandang kawasan ini sebagai teater udara dan maritim belaka—mereka melihat semua daratan di kawasan ini sebagai terrain kunci. Rantai pulau pertama—membentang dari Jepang ke Taiwan, Filipina, hingga Malaysia dan daratan—adalah terrain kunci yang harus dipertahankan atau direbut.
"Our World War II admirals and generals would be a little surprised by how we're looking at the theater," said Keane. U.S. military leaders from the Pacific War era never viewed the region as merely an air and maritime theater—they saw all the land in the region as key terrain. The first island chain—stretching from Japan to Taiwan, the Philippines, down to Malaysia and the mainland—is key terrain that must be defended or seized.
Tiongkok mengkonversi karang-karang di Laut Tiongkok Selatan menjadi pulau-pulau buatan yang dilengkapi pangkalan udara dan fasilitas militer. Ini adalah bukti paling konkret dari prinsip yang dikemukakan Jenderal Keane: "Mereka tahu bahwa Anda dapat mempengaruhi rute pelayaran jika Anda menguasai daratan." Bukan angkatan laut atau udara semata yang mendominasi kawasan, melainkan kontrol atas terrain daratan—bahkan jika terrain itu harus diciptakan secara artifisial.
China converted reefs in the South China Sea into artificial islands equipped with air bases and military facilities. This is the most concrete evidence of the principle General Keane advanced: "They know that you can affect the navigation routes if you own the land." It is not the navy or air force alone that dominates the region, but control over land terrain—even if that terrain must be artificially created.
| Lokasi/TerrainLocation/Terrain | Signifikansi StrategisStrategic Significance | Peran Kekuatan DaratLand Force Role | Ancaman DominanDominant Threat |
|---|---|---|---|
| TaiwanTaiwan | Rantai pulau pertama; produksi chip semikonduktor kritis globalFirst island chain; critical global semiconductor chip production | Pertahanan pantai; urban warfare; penguatan pertahanan TaiwanCoastal defense; urban warfare; strengthening Taiwan's defense | Serangan amfibi PLA; rudal presisi jarak jauhPLA amphibious attack; long-range precision missiles |
| FilipinaPhilippines | Pangkalan rotasi AS; proyeksi ke LTS dan selat LuzonU.S. rotational base; projection to SCS and Luzon Strait | Pertahanan pangkalan; operasi asimetris; A2/AD counterBase defense; asymmetric operations; A2/AD counter | Tekanan militer dan diplomatik TiongkokChinese military and diplomatic pressure |
| Guam | Rantai pulau kedua; hub logistik dan proyeksi AS di PasifikSecond island chain; U.S. logistics and projection hub in the Pacific | Pertahanan titik kritis; deteksi rudal; logistik strategisCritical point defense; missile detection; strategic logistics | Rudal balistik DF-26 China ("Guam Killer")China's DF-26 ballistic missiles ("Guam Killer") |
| Jepang / OkinawaJapan / Okinawa | Sekutu utama; pangkalan AS terbesar di Pasifik; selat KoreaKey ally; largest U.S. base in the Pacific; Korea Strait | Pertahanan bersama; power projection ke Semenanjung Korea dan TaiwanJoint defense; power projection to Korean Peninsula and Taiwan | Rudal Korea Utara; peningkatan kemampuan ofensif PLANorth Korean missiles; increasing PLA offensive capabilities |
| Laut Tiongkok SelatanSouth China Sea | Rute pelayaran kritis; ~US$3,4 triliun perdagangan/tahunCritical shipping routes; ~US$3.4 trillion trade/year | Pulau-pulau buatan Tiongkok = terrain kunci yang membutuhkan counter-posture daratChina's artificial islands = key terrain requiring land counter-posture | Kontrol pangkalan pulau buatan PLAPLA artificial island base control |
Salah satu perubahan paling signifikan dalam strategi militer kontemporer adalah berakhirnya era strategic deployment yang tidak terbantahkan. Selama Perang Teluk 1991 dan invasi Irak 2003, Amerika Serikat membangun kekuatannya secara masif di hadapan musuh tanpa hambatan signifikan. Era itu telah berakhir, dan Jenderal Keane menjelaskan mengapa itu tidak akan pernah terulang lagi.
One of the most significant changes in contemporary military strategy is the end of the era of uncontested strategic deployment. During the 1991 Gulf War and the 2003 Iraq invasion, the United States built up its forces massively in the enemy's face without significant hindrance. That era has ended, and General Keane explained why it will never return.
Jika kita harus menggerahkan kekuatan besar ke sebuah konflik yang sedang berlangsung—katakanlah di Indo-Pasifik—itu akan diperebutkan. Mereka akan melakukan serangan siber pada kemampuan saya untuk memanifestasikan pasukan, memindahkan peralatan berat ke depot kereta api, memuat kapal, dan memindahkan orang dengan pesawat ke teater. Dalam transit, mereka akan menyerang pengiriman secara kinetik. If we have to deploy major forces to a conflict that's already taking place—let's say in the Indo-Pacific—it will be contested. They would conduct cyber attacks on my ability to manifest my troops, move my heavy equipment to a railyard, get it on a ship, and move my people by airplanes to the theater. In transit, they would kinetically contest the shipping.
— Jenderal Jack Keane, CSIS (2026) — General Jack Keane, CSIS (2026)Jenderal Keane menyebutkan secara spesifik beberapa sistem senjata jarak jauh berbasis darat yang sudah terbukti efektif di medan perang kontemporer: sistem PrSM (Precision Strike Missile) yang menggantikan ATACMS dengan jangkauan dan lethality yang meningkat; HIMARS sebagai sistem peluncuran roket yang sangat mobile; serta drone satu arah (one-way drones) yang efektif sebagai senjata murah berkapasitas destruktif tinggi. Drone yang dapat terbang seribu mil, menurutnya, "adalah sistem jarak jauh menurut definisi siapapun."
General Keane specifically mentioned several ground-based long-range weapons systems that have proven effective on the contemporary battlefield: the PrSM (Precision Strike Missile) system replacing ATACMS with increased range and lethality; HIMARS as a highly mobile rocket launch system; and one-way drones as effective low-cost high-destructive-capacity weapons. Drones that can fly a thousand miles, he argued, "are a long-range system by anybody's definition."
| SistemSystem | JangkauanRange | KeunggulanAdvantage | Penggunaan AktifActive Use |
|---|---|---|---|
| PrSM (Precision Strike Missile) | 500+ km | Menggantikan ATACMS; lethality & jangkauan lebih besar; akurasi tinggiReplaces ATACMS; greater lethality & range; high accuracy | Sedang diuji; Timur TengahBeing tested; Middle East |
| ATACMS | 300 km | Terbukti efektif; digunakan di Ukraina dan Timur TengahProven effective; used in Ukraine and Middle East | Ukraina; Timur Tengah (aktif)Ukraine; Middle East (active) |
| HIMARS | 70–300 km | Sangat mobile; multiple rocket systems; deployable cepatHighly mobile; multiple rocket systems; rapid deployment | Ukraina; Indo-Pasifik (rotasional)Ukraine; Indo-Pacific (rotational) |
| Drone Satu Arah (One-Way)One-Way Drones | 1.000+ km | Biaya rendah; presisi tinggi; sulit dideteksi; volume besarLow cost; high precision; difficult to detect; high volume | Timur Tengah; Ukraina (aktif, sangat efektif)Middle East; Ukraine (active, highly effective) |
Diskusi CSIS yang dipimpin oleh Dr. Hamre, Jerry McGinn, dan Jenderal Jack Keane berhasil membangun argumen yang kohesif dan berbasis pengalaman tentang mengapa Amerika Serikat tidak boleh mengabaikan, mengurangi, atau mendiskon relevansi kekuatan daratan dalam strategi pertahanan nasionalnya.
The CSIS discussion led by Dr. Hamre, Jerry McGinn, and General Jack Keane successfully built a cohesive and experience-based argument for why the United States must not neglect, reduce, or discount the relevance of land power in its national defense strategy.
Pertama, koalisi adversarial Rusia–Tiongkok–Iran–Korea Utara yang sekarang beroperasi adalah tantangan strategis paling kompleks sejak Perang Dunia II. Keempat aktor ini, meskipun dengan motivasi yang berbeda-beda, secara kolektif berupaya mendelegitimasi kepemimpinan global Amerika Serikat—dan semuanya memiliki kekuatan darat yang signifikan.
First, the Russia–China–Iran–North Korea adversarial coalition now in operation is the most complex strategic challenge since World War II. These four actors, though with differing motivations, collectively seek to delegitimize U.S. global leadership—and all possess significant land forces.
Kedua, drone warfare mengubah taktik, bukan mengeliminasi kebutuhan akan tentara darat. Hukum sejarah militer berlaku: setiap keunggulan teknologi memunculkan countermeasure yang mengembalikan keseimbangan. Angkatan Darat AS sedang mengembangkan kapabilitas counter-drone yang akan menggeser keseimbangan ini kembali.
Second, drone warfare changes tactics, not the need for ground forces. The law of military history holds: every technological advantage spawns a countermeasure that restores equilibrium. The U.S. Army is developing counter-drone capabilities that will shift this balance back.
Ketiga, Indo-Pasifik adalah teater darat, bukan hanya udara dan maritim. Tiongkok sendiri membuktikan ini dengan membangun pulau buatan di Laut Tiongkok Selatan—strategi yang sepenuhnya berbasis prinsip kontrol terrain.
Third, the Indo-Pacific is a land theater, not just air and maritime. China itself proves this by building artificial islands in the South China Sea—a strategy entirely based on the principle of terrain control.
Keempat, keunggulan strategis kekuatan darat AS bersumber dari investasi dalam modal manusia—pemimpin yang terlatih selama belasan hingga dua puluhan tahun dalam sistem komando terdesentralisasi. Ini adalah keunggulan yang tidak bisa ditiru dengan cepat oleh adversari manapun.
Fourth, the U.S. land force's strategic advantage stems from investment in human capital—leaders trained over decades in a decentralized command system. This is an advantage that no adversary can replicate quickly.
Semua negara memiliki kekuatan darat. Mereka menggunakannya untuk mengendalikan terrain milik orang lain. Dan mereka menggunakannya untuk memastikan bahwa mereka juga mengendalikan rakyat mereka sendiri. Memproyeksikan kekuatan darat adalah sesuatu yang dapat dilakukan Amerika Serikat lebih baik dari negara manapun di dunia. Itulah mengapa studi ini sangat penting. Every country has land power. They use land power to control other people's terrain. And they use land power to make certain they're also controlling their own people. Projecting land power is something the United States can do better than any country in the world. That's why this study is taking on increased importance.
— Jenderal Jack Keane, Wakil Ko-Ketua Komite Penasehat, CSIS Future of Land Forces — General Jack Keane, Co-Chair, Advisory Committee, CSIS Future of Land ForcesStudi Future of Land Forces CSIS akan terus berlanjut sepanjang tahun 2026, menerima masukan dari publik, pembuat kebijakan, dan komunitas akademis. Ini adalah salah satu upaya kajian paling ambisius yang pernah dilakukan untuk mendefinisikan peran kekuatan darat dalam arsitektur pertahanan Amerika Serikat abad ke-21.
The CSIS Future of Land Forces study will continue throughout 2026, accepting inputs from the public, policymakers, and the academic community. This is one of the most ambitious study efforts ever undertaken to define the role of land forces in the 21st-century U.S. defense architecture.
File Masa-Depan-Kekuatan-Darat-Amerika-Serikat.pdf tidak ditemukan.
Pastikan file berada di folder yang sama dengan file HTML ini.
File Masa-Depan-Kekuatan-Darat-Amerika-Serikat.pdf not found.
Ensure the file is in the same folder as this HTML file.